Saturday, April 20, 2013

Surat Balasan untuk Robin Wijaya


Untuk Kamu, Pembuat kisah terhebat untukku…

Aku datang, Robin. Membalas suratmu yang telah lama kubaca. Menggenapkan hatiku untuk berbagi cerita kepadamu untuk berbicara tentang rasa yang selama ini tidak pernah kuketahui bentuknya.
Rasa. Satu kata yang sering membuat hatiku kebas akan sakit karena terlalu sering mengalaminya. Rasa. Satu makna yang ada di dalamnya membuatku rindu sekaligus benci akan keadaan romantisme yang ada. Rasa. Dua suku kata yang membuatku menjadi titik terlemah sekaligus titik terkuat dalam diriku sendiri. Dan rasa, satu fase di mana aku mulai tidak mengenali diriku lagi. Membuatku menjadi orang lain untuk merebut perhatiannya.

Jika kau bertanya, “Adakah orang yang membuatmu menyisihkan sebagian waktu untuk sekedar memikirkannya?”, jawabannya adalah: selalu ada. Karena setiap detik saat aku melewati sebuah tempat “pusaka” (aku menyebutnya begitu karena terlalu banyak kenangan yang ada), maka detik itu pula semuanya kembali ke masa lalu. Tepat ketika semuanya bermula. Sama seperti kisah ROMA-mu yang sempat mengukir cerita romansa dua orang yang jatuh cinta.

Jika kau masih bertanya lagi, “Adakah orang yang hanya dengar mendengar tawanya saja, kamu merasa tak perlu apa-apa lagi?”, dan jawabannya: selalu ada. Satu hal yang harusnya kau tahu juga, Robin. Dengan tawanya, semua sudah jelas bahwa dia baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Dengan begitu, secara otomatis akupun akan baik-baik saja.

Ah, tentang pengingkaran itu. Aku tidak terlalu mengerti tentang pengingkaran. Mungkin benar bahwa aku pernah melakukan penolakan dan pengingkaran itu. Seperti halnya kau berkata “tidak” padahal hatimu berkata “iya”. Semudah itukah pengingkaran? Pada kenyataannya semua serba sulit untuk dilakukan, kan? Aku tidak mengerti.

Tapi, Robin, apa kau mengerti tentang “rasa yang hanya fantasi sesaat”? Bukankah itu bentuk lain dari sebuah pengingkaran? Mengakui bahwa kau punya rasa itu, tapi enggan mengatakannya. Berbicara tentang menunggu momen yang tepat, tapi ternyata kesempatan tidak pernah lagi menghampiri. Fantasi sesaat, aku mengartikannya sebagai sebuah kejutan yang dahsyat. Karena di dalamnya ada dua kemungkinan nyata: bahagia atau menderita. Semua hanya tergantung waktu.

ROMA, kota itu menarik. Seindah lampu kota yang benderang saat malam hari, terlampaui indah malah. Dan aku ingin mengunjungi kota itu. Bercengkrama dengan pendar cahaya senja yang keemasan dari dalam gondola melintasi Ponte di Rialto, seperti katamu. Suatu saat aku akan ke sana, Robin. Mengukirkan kisah-kisah baru entah bersama siapa. Yang jelas, aku akan mencoba merangkaikan kalimat demi kalimat. Menyulam cerita demi cerita indah untuk nantinya dapat kunikmati bersama orang terkasihku, juga dirimu, Robin.

ROMA menantiku… menggoreskan kisah bahagiaku di sana.

Biarkan aku tenggelam dalam romantisme kisah ROMA-mu, sebelum aku benar-benar ke sana. Menjejakkan kaki di tanah ROMA yang sebelumnya telah kuketahui darimu.

Salam hangat,
Afrianti Eka Pratiwi

No comments:

Post a Comment