Sunday, April 21, 2013

The 14th of April


Sebuket Mawar Merah
Oleh Afrianti Eka Pratiwi

Aku termenung menatapi langit yang makin lama kian kelabu. Tak ada sinar matahari yang biasanya menghangatkan sesore ini. Hanya angin kencang dengan sedikit rintik yang belum dihiraukan orang. Semua hanya menunggu untuk hujan datang lebih deras, baru mereka meneduh. Selagi masih bisa diterjang, kenapa tidak? Itu pasti pikiran mereka.

Saturday, April 20, 2013

Surat Balasan untuk Robin Wijaya


Untuk Kamu, Pembuat kisah terhebat untukku…

Aku datang, Robin. Membalas suratmu yang telah lama kubaca. Menggenapkan hatiku untuk berbagi cerita kepadamu untuk berbicara tentang rasa yang selama ini tidak pernah kuketahui bentuknya.
Rasa. Satu kata yang sering membuat hatiku kebas akan sakit karena terlalu sering mengalaminya. Rasa. Satu makna yang ada di dalamnya membuatku rindu sekaligus benci akan keadaan romantisme yang ada. Rasa. Dua suku kata yang membuatku menjadi titik terlemah sekaligus titik terkuat dalam diriku sendiri. Dan rasa, satu fase di mana aku mulai tidak mengenali diriku lagi. Membuatku menjadi orang lain untuk merebut perhatiannya.

Jika kau bertanya, “Adakah orang yang membuatmu menyisihkan sebagian waktu untuk sekedar memikirkannya?”, jawabannya adalah: selalu ada. Karena setiap detik saat aku melewati sebuah tempat “pusaka” (aku menyebutnya begitu karena terlalu banyak kenangan yang ada), maka detik itu pula semuanya kembali ke masa lalu. Tepat ketika semuanya bermula. Sama seperti kisah ROMA-mu yang sempat mengukir cerita romansa dua orang yang jatuh cinta.

Jika kau masih bertanya lagi, “Adakah orang yang hanya dengar mendengar tawanya saja, kamu merasa tak perlu apa-apa lagi?”, dan jawabannya: selalu ada. Satu hal yang harusnya kau tahu juga, Robin. Dengan tawanya, semua sudah jelas bahwa dia baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Dengan begitu, secara otomatis akupun akan baik-baik saja.

Ah, tentang pengingkaran itu. Aku tidak terlalu mengerti tentang pengingkaran. Mungkin benar bahwa aku pernah melakukan penolakan dan pengingkaran itu. Seperti halnya kau berkata “tidak” padahal hatimu berkata “iya”. Semudah itukah pengingkaran? Pada kenyataannya semua serba sulit untuk dilakukan, kan? Aku tidak mengerti.

Tapi, Robin, apa kau mengerti tentang “rasa yang hanya fantasi sesaat”? Bukankah itu bentuk lain dari sebuah pengingkaran? Mengakui bahwa kau punya rasa itu, tapi enggan mengatakannya. Berbicara tentang menunggu momen yang tepat, tapi ternyata kesempatan tidak pernah lagi menghampiri. Fantasi sesaat, aku mengartikannya sebagai sebuah kejutan yang dahsyat. Karena di dalamnya ada dua kemungkinan nyata: bahagia atau menderita. Semua hanya tergantung waktu.

ROMA, kota itu menarik. Seindah lampu kota yang benderang saat malam hari, terlampaui indah malah. Dan aku ingin mengunjungi kota itu. Bercengkrama dengan pendar cahaya senja yang keemasan dari dalam gondola melintasi Ponte di Rialto, seperti katamu. Suatu saat aku akan ke sana, Robin. Mengukirkan kisah-kisah baru entah bersama siapa. Yang jelas, aku akan mencoba merangkaikan kalimat demi kalimat. Menyulam cerita demi cerita indah untuk nantinya dapat kunikmati bersama orang terkasihku, juga dirimu, Robin.

ROMA menantiku… menggoreskan kisah bahagiaku di sana.

Biarkan aku tenggelam dalam romantisme kisah ROMA-mu, sebelum aku benar-benar ke sana. Menjejakkan kaki di tanah ROMA yang sebelumnya telah kuketahui darimu.

Salam hangat,
Afrianti Eka Pratiwi

The 13th of April


Aku Belajar Darinya

Aku belajar memahami arti kehidupan darinya. Dari seorang anak kecil bertubuh tambun yang bersuara lantang.

Sore itu hujan turun deras. Menyapu sebagian besar kota Jakarta yang padat. Setiap orang di sini hanya bisa mengeluh. Ketika terik matahari membakar kulit mereka, mereka saling mengumpat, menginginkan keteduhan. Ketika hujan menyapa, mereka masih juga mengumpat, agar hujan reda.

Seperti yang aku tahu, sangat jarang orang Jakarta yang suka hujan. Mereka benci hujan, karena ketika hujan yang dianggap sebagian orang membawa berkah, maka hujan adalah musibah bagi mereka. Banjir. Ya, apalagi alasan mereka membenci hujan jika bukan karena hal itu?



The 12th of April

Delapan Belas yang Bermakna

Nobody’s perfect. Pepatah tua yang selalu benar. Karena tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang sempurna terkecuali Rasullullah Saw. Sama seperti kisah di penjuru dunia manapun, tak sempurna.



Friday, April 19, 2013

The 19th of April

Another Story of
"Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"

Dentang pergantian hari sudah lewat dua puluh tiga menit yang lalu. Masih di tempat yang sama. Menatap layar kosong. Aku menuliskannya ketika kebanyakan orang telah terlelap, meniti mimpi-mimpinya. Mencoba menidurkan kisah-kisah kelam tentang hari ini dan berharap terbangun dengan segenap kisah manis keesokan harinya.

Saturday, April 13, 2013

The 11th of April


Tentang Sebuah Maaf

Langit masih cerah merona. Dengan matahari dan awan yang berarak tipis melengkapinya. Semua terlihat sempurna, tapi tidak untukku. Kamu tidak ada. Jadi, ada sebagian hal yang hilang pada hari itu. Menjelang ujian nasional adalah waktu yang aku benci. Bukan berarti aku takut menghadapinya, tapi itu artinya waktuku untuk melihatmu akan semakin tipis.

Jelas, aku menginginkan waktu lebih banyak dari ini. Kita bisa lihat apa yang akan terjadi setelah ujian nasional ini. Aku pasti akan sangat jarang berada di sekolah, bahkan sudah pasti ketika aku kembali ke tempat itu, kemungkinan kamu sudah pulang, meskipun aku tahu kamu selalu betah di sekolah.

Oke, aku tidak akan membahas ini terlebih dahulu. Aku akan membahas satu hal yang menurutku mampu membuatku merasa sedikit lega.

Derai air mata teman-teman tak mampu mempengaruhiku. Kepalaku pening, migraine dari beberapa hari yang lalu. Dan, meskipun aku terharu dengan situasi itu, aku tidak bisa menangis. Kau tahu, ini semua akibat janjiku yang dulu lagi. Aku tersenyum seraya menjabat tangan beberapa teman yang aku temui. Tentang permintaan maaf menjelang ujian nasional, ini ritual biasa. Tapi ada hal yang tidak biasa semenjak kau memilih gadis itu.


Aku melihatnya, terduduk di bawah pohon rindang bersama beberapa temannya. Sibuk memperhatikan layar ponselnya. Entah, aku tidak tahu apa yang ia lakukan dan aku tidak ingin tahu. Sungguh. Ada getaran halus yang menyuruhku untuk kesana. “Hanya meminta maaf, kan? Oke, akan aku lakukan,” pikirku.

Aku dengan segenap hati, menghampirinya. Ada rasa canggung saat memulai sebuah percakapan pendek dengannya.

“Aku minta maaf, ya.” Aku mengulurkan tangan dan tersenyum. Ia membalas sepersekian detik dan menyambut uluran tanganku, saling berjabat. Tidak sampai lima detik tapi cukup membuatku lega. Aku menahan nafas beberapa detik saat itu. Berharap aku akan kuat melakukannya, dan aku benar-benar melakukannya. Berdamai secara tidak langsung dnegan orang yang kaukasihi itu.


Lega. Itu perasaanku saat itu. Aku mulai mengerti tentang arti maaf, tapi untuk perasaan yang satu ini, aku tidak akan pernah bisa mengerti. Aku tahu, maafku waktu itu melambangkan perdamaian atas semua hal yang pernah kita permasalahkan. Tentang aku yang terlalu egois memaksa. Tentang aku yang terlalu tidak mengerti perasaanmu dan perasaannya. Tentang aku yang tidak tahu betapa besar rasa cinta dan kasih sayang kalian. Dan tentang aku yang terlalu menyayangimu.

Cileungsi , 11 April 2013

Thursday, April 11, 2013

The 9th of April


"Hear something from here. You with your shine. Like a sun(rise) before morning. Like a sun(set) before evening. Let me tell you that you're special."

Aku tidak tahu bagaimana aku mengatakan ini. Aku mengerti ada banyak orang yang bisa aku jadikan motivator, termasuk kamu.



Dunia ini tidak sepenuhnya milik kita.
Seperti butiran pasir lembut yang menggelitik kaki kita.
Seperti awan tipis yang berarak, melindungi kita.
Debu berterbangan seiring dengan kaki kita melangkah.

Angin membelai lembut wajah bahagia kita.
Menabur doa dalam setiap impian yang pernah kita sematkan dalam deburan ombak yang berkejaran.

Ini mimpi kita, jangan sia-siakan.
Ini tempat kita mengejar dan mewujudkan semua cita-cita.
Ini waktu kita menentukan sebuah peta kehidupan yang bisa kita ubah dengan usaha.
Ini jalan kita menuju kebahagiaan yang abadi.


The 8th of April

Ini tentang kamu lagi. Tentang waktu yang terlalu cepat berjalan tanpa memberiku kesempatan untuk mengubah haluan. Rasanya, semua kembali pada titik-titik jalan menuju masa lalu. Kamu. Hujan. Lapangan. Serta upacara. Semua hal itu membuatku makin terjebak dalam lintasan waktu. Membuatku merasa ada dalam dimensi berbeda, terutama saat memandangmu di tenagh gerimis.

The 7th of April


Untukmu, A...

Kata demi kata terangkai manis
Menyerupa kilatan cahaya yang dinamis
Separuh waktu ditelan gerimis
Juga butiran bening membentuk garis

Pusatnya adalah kamu
Tumpuan serta titik temu
Langkah yang kuseret dengan susah payah
Kembali pada arah yang sama

Demikian tentang aku yang tenggelam dalam imajinasi
Tentang kamu yang tak bisa kuraih
Getir, menjadi sapaanku tiap waktu
Melihat lengkung itu di bibirmu, bersamanya…



Cileungsi, 7 April 2013

Saturday, April 6, 2013

The 4th of April

Adzan Zuhur


Zuhur memanggil saya dengan syahdu. Tidak ada yang aneh dengan zuhur ini, hanya saja ada yang berbeda. Ini tentang kamu. Lagi, lagi, dan lagi tentang kamu. Entah mengapa saya tidak pernah bosan membahas kamu. Untuk saya, cerita tentang kamu tidak akan pernah habis saya tuliskan. Termasuk untuk siang ini, zuhur yang menyejukkan.

The 3rd of April



 Proses "Berdamai"

Menurut saya, proses “berdamai” tidak sama dengan “Move On”. Kenapa? Karena dilihat dari definisi dari sudut pandang saya memang tidak sama. Move On daalah suatu cara untuk berpindah ke “tempat” atau suasana lain dari yang pernah kita lalui. Sebagia contoh, istilah move on sering digunakan oleh para remaja saat ini ketika mengalami kejenuhan dalam suatu suasana. Atau setelah pasca pemutusan hubungan “pacaran” yang dijalaninya agar tidak terus-menerus larut dalam kesedihan. Kadang, peristiwa move on ditandai dengan adanya seseorang baru yang menjadi pengganti sang mantan.

Sedangkan, proses “berdamai” lebih ke arah mengikhlaskan perasaan, meskipun masih ada keinginan untuk ada di posisi itu. Atau bisa diibaratkan dalam sebuah perang, kita bisa membuat perjanjian perdamaian sampai batas waktu yang telah ditentukan. Proses “berdamai” adalah bagian dari yang paling sulit menurut saya. Karena harus benar-benar mengikhlaskan diri untuk kebahagiaan seseorang itu dan… kita sendiri. Meskipun pada kenyataannya tidak demikian.


 

Saya akan bagikan kisah saya yang sudah menjadi rahasia umum ini pada kalian yang belum tahu. Sejujurnya, move on dan proses “berdamai” adalah dua hal yang serupa. Tapi dalam konteks ini akan saya bedakan agar kita benar-benar bisa mengetahui mana yang dengan hati, mana yang hanya dianggap angin lalu. Bukan berarti saya men-cap orang-orang yang gampang move on dengan stempel “Angin Lalu”. Saya sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran dan perasaan orang-orang itu, kan? Bahkan saya bukan orang yang bisa membaca pikiran.

Saya termasuk orang yang mudah menyukai orang lain. Dengan beberapa kali bertemu, saya bisa langsung jatuh hati pada orang itu. Tentu dengan keadaan dan suasana tertentu. Kejadian ini membuat teman-teman saya heran. “Kok lu bisa suka sama banyak orang? Yang Pangeran Matahari, Pangeran Embun, Pangeran-pangeran lainnya deh.”


Akan saya jelaskan. Ketika saya memutuskan untuk menetapkan hati saya, saya pernah bilang bahwa saya akan bersamanya sampai waktu yang ditentukan untuk saya berhenti. Dalam perjalanan saya menuju tiga tahun ini, saya tidak luput dari banyak perasaan-perasaan yang tumbuh pada orang lain selain dia. Tapi, saya katakan kembali, saya menyukai orang lain bukan karena saya telah berhasil move on, malah sebaliknya.

Kenapa bisa begitu? Karena setiap orang yang saya sukai ibarat cahaya yang dibiaskan darinya. Jadi, apapun yang terjadi, sesuka apapun saya pada orang itu, prioritas saya tetap pada dia. Ini sedikit latar belakangnya.

Tentang proses “berdamai” yang sesungguhnya, saya sendiri belum berhasil melakukannya. Karena sangat sulit melakukan ini. Saya menyukainya lebih dari semua kata-kata yang pernah saya tuliskan. Dan, ketika dia memiliki seorang kekasih di awal tahun pelajaran kami di SMA, saya memulai proses “berdamai” itu dengan hati yang tidak benar-benar berdamai. Tapi, lagi-lagi saya terjebak pada janji saya sendiri. Yang mungkin samapi sekarang masih saya rasakan dampaknya.

Banyak hal yang mampu membuat saya belajar memahami bagaimana proses “berdamai” sebenarnya. Saya menyadari, dari sekian banyak janji saya untuk move on, semuanya saya langgar. Karena saya tidak benar-benar bisa dan berniat untuk melakukannya. Alhasil hingga saat ini saya masih di posisi yang sama, walaupun saya sedikit demi sedikit mengikhlaskan dia demi kebahagiaannya.

Cerita move on, itu lain lagi. Move on identik dengan “punya pacar baru” atau “punya gebetan baru”, bahkan “sudah lupa sama yang lama”. Tapi ini berbeda. Move on bukan sekedar itu saja. Menurut saya (lagi), move on itu berusaha melupakan segala sesuatu tentang si dia. Membabat habis semua yang berhubungan dengan dia tanpa terkecuali. Saya pikir hal ini tidak semudah kelihatannya. Karena semakin kita memaksa untuk melupakan, maka semakin kuat ingatan itu di pikiran kita. Saya pernah mencobanya dan hasilnya… GAGAL TOTAL.

Pada intinya, proses “berdamai” jauh lebih baik ketimbang move on yang jika sudah lama akan dicari-cari lagi. (opini saya).



“Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kaupangkas lagi. Semakin kautikam, di tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kauinjak, helai daun barunya semakin banyak.” (Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye).

Cileungsi, 3 April 2013

Tuesday, April 2, 2013

The 2nd of April 2013

Selamat siang...
Hari kedua di bulan April. Masih terasa seperti hari-hari lainnya. Belum ada yang spesial lagi seperti hari kemarin. Saat dia membuat saya merasa tidak bisa berkutik. Bukan karena saya takut, tapi karena dengan melihat dia, rasa saya yang mulai pudar akan kembali pekat seperti sedia kala. Saya selalu tidak mengerti, apa yang membuat saya bisa benar-benar begitu tertarik padanya. Wajahnya? Dibanding yang lain, dia sama saja. Apalah arti perkataan orang yang sedang jatuh cinta? Semuanya pasti dipandang baik. jadi saya mencoba melihat ini dengan sudut pandang yang berbeda.


Tidak selesai begitu saja. Semua rangkaian panjang ini saya yakin akan ada ujungnya. Tapi, saya tidak tahu kapan. Saya merasa terjebak dalam permainan yang tidak tahu cara penyelesaiannya bahkan saya cenderung tidak punya kesempatan untuk menyelesaikannya. Apakah dnegan wkatu yang terus berjalan, saya mampu mempunyai kesempatan untuk berhenti dari "permainan" ini? Apakah dengan tempat yang berbeda saya mampu mengalihkan pikiran saya dari "permainan" ini?


Pertanyaan itu sesungguhnya mampu saya jawab. Mengutip kata-kata dari sebuah novel, "Kesempatan akan selalu ada jika kamu mampu menmbuat kesempatan itu terjadi." (Sunset Bersama Rosie oleh TereLiye). Maka yang saya butuhkan hanyalah keberanian mengambil keputusan. Tapi, saya terlajur takut untuk melakukannya lagi. Saya pikir, dengan mengatakannya lagi (nanti) saya akan lega dan bisa mulai berdamai dengan perasaan saya. Ternyata yang saya pikirkan terlalu banyak resiko. Saya takut ketika saya mengatakannya lagi, saya malah akan merasa menggantungkan harapan lebih tinggi bukan malah memutuskan tali harapan itu.

Sebenarnya, harapan yang saya tunggu tentang ini tidak pernah berarti. Smeua terasa monoton, datar, dan tanpa makna yang jelas. Dari sekian banyak hal yang saya alami hingga saat ini, saya hanya mampu mengambil beberapa hikmah terutama tentang kesetiaan. Tapi sisanya masih lebih buruk dari yang pernah saya bayangkan.


Saya tidak tahu sampai kapan ini berjalan. Jika masih panjang waktunya, saya hanya bisa berharap jika waktu yang saya lewati untuk perasaan ini mampu membuat saya tumbuh menjaid gadis yang lebih dewasa dnegan pemikiran yang rasional. Bukan melulu menggunakan perasaan. Saya hanya butuh berpikir rasional, tanpa harus mengandalkan aspek rasa yang sejujurnya tidak banyak membantu saya dalam hal ini.


Mungkin suatu saat saya akan sadar, bahwa kebanyakan orang bisa tiba-tiba kehilangan akalnya hanya karena masalah seperti ini. Tapi lagi-lagi saya ingin menjadi gadis yang cerdas, yang mampu mengubah perasaan menjadi kisah logika bermanfaat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Meski pada kenyataannya memang terlalu menyakitkan untuk dirasa. Namun punya sedikit hikmah untuk pembacanya.

Dalam tulisan ini saya tidak tahu apakah ada pesan yang bisa diambil atau tidak. Jika ada, maka ambillah hikmah positifnya saja. Semua adalah tentang kehidupan yang tidak selalu berada dalam lingkaran kebahagiaan yang sempurna.


Cileungsi, 2 April 2013

The First of April

Ini masih tentang kamu...
Lelaki yang menjadi sejarah panjang
Yang memenuhi hari-hari
Tanpa terkecuali

Ini masih tentang kamu...
Lagu lama yang menjadi teman setia
Kisah usang yang sesungguhnya hampir mati
Terhempas oleh dirimu sendiri

Dulu, sosokkmu adalah penyejuk
Kemarin, wajahmu adalah ketenangan
Tadi, perilakumu membuatku gelisah hebat
Dan kini, bayangmu tak lepas dari imajiku

aku yakin kau maish ingat
Deretan kata yang masih melekat
"Apapun yang terjadi ku kan selalu ada untukmu..."
Itu, kata-kata ajaib...

Sejauh aku berlari
Tak ada hasil
Sedekat aku mengenal
Juga tak ada hasil

Aku rindu kamu lagi...

Cileungsi, 1 April 2013