Thursday, February 28, 2013

Embarrassing and Awkward Moments


Hari ini banyak banget kesalahan yang gue lakuin…
Pertama, gue salah masukkin Nomor Induk Siswa (NIS) di formulir SMNPTN. Itu gue bener-bener nggak tau. Malem itu gue udah panic banget dan nggak tau harus gimana. Dan untungnya, sekolah belum rekomendasiin siswanya, jadi masih ada kemungkinan buat membatalkan finalisasi yang gue lakukan. Dan masalah itu kelar. 

Kedua, hari ini gue ada tryout dari Universitas Gunadarma. Soal pertama itu Matematika. Awalnya gue optimis karena gue semalem belajar, walaupun sedikit. Tapi pas gue liat soalnya itu tiba-tiba aja otak gue blank. Serasa kosong dan nggak tau mau ngisi apa. Bodohnya lagi di menit-menit terakhir, gue malah ngeliat jawaban temen sebelah gue. Padahal kita BEDA PAKET SOAL!!! Makan, tuh soal! -___- Dan gue baru sadar saat ngerjain soal tryout kedua, bahasa Inggris. Matilah gue… >,<

Ketiga, gue baru aja mau solat zuhur. Sebelum solat, gue biasanya ngambil mukenan buat gue pake baru abis itu wudhu. Nah, abis wudhu, gue balik lagi kan mau solat. Karena gue gak pake kacamata, gue liat ada yang make mukena yang tadi udah gue “booking”. Karena gue kira itu temen gue, gue langsung nyeplos aja, “Eh ini punya gue!”, pas gue liat, ternyata itu ade kelas. Aduh malu banget gue, untung lagi sepi. Dia dengan tampang berdosa bilang, “Oh, ini punya kakak?”. Gue jawab aja karena udah terlanjur malu, “Eh enggak, udah pake aja…”. Dan gue bergegas ngambil mukena lain. Dan gue pun solat harus difokus-fokusin karena agak kepikiran sama hal itu. It’s an embarrassing moment…


Cileungsi, 28 Februari 2013

Wednesday, February 27, 2013

I'm Trying...


I’m Trying…

Terlalu banyak waktu yang sudah terbuang. Langkah yang terseret arus masa lalu masih membuai. Bukan dengan kenyataan yang membahagiakan, melainkan keterpurukan yang mendera jiwa. Siapa yang tahu bahwa semua ini akan terjadi? Siapa yang mau untuk berada di posisi ini? Tak satupun. Lagi, perdebatan logika dan perasaan masih belum menemukan titik temu. Mungkin dengan sedikit paksaan dan keikhlasan yang benar-benar ikhlas, jalan terbaik akan terbuka.
                 

Bukan dengan kekerasan yang nyatanya tak mampu mengubah apapun. Bukan juga dengan kelembutan yang semakin lama akan semakin menyandera pikiran untuk berimajinasi hal-hal yang tidak sesuai kenyataan. Tapi dengan DO’A. Hanya do’a yang mampu hapuskan rasa yang bersemayam. Hanya do’a yang mampu mengikhlaskan sekian banyak hal yang terhempas sia-sia.
              
  “ZONA NYAMAN = KAMU”

 Tidak pernah ada alasan yang pasti mengapa aku menempatkanmu sebagai terdakwa dan predikat “tempat ternyaman” yang pernah ada di dunia. Semua terjadi karena AKU TERBIASA. Aku mulai membiasakan diri benyaman-nyaman ria dengan dirimu, dengan segala hal yang ada pada dirimu. Tak ada sedikitpun kata bosan menghampiriku. Tapi, bagai orang yang baru sadar dari “kegilaannya” atau “kecanduannya” atau “ketergantungannya”, aku mengerti bahwa sudah saatnya meninggalkan kebiasaan itu. Lambat laun aku tahu, selama ini waktuku sia-sia. Menegakkan benang basah yang jelas-jelas mustahil untuk terjadi.

 Walau sejujurnya aku masih beradaptasi dengan situasi yang baru, aku belum sepenuhnya bisa. Tapi aku selalu ingat, BISA itu karena TERBIASA. Dan aku akan membiasakan diri untuk itu. Aku tidak ingin menggerus hatiku dengan kepedihan. Aku tidak ingin mengganggu hidup orang lain. Dan aku tidak ingin lagi membuatmu terganggu. Jadi, sudah 2 hari aku mencoba. Dan aku masih adaptasi.


Cileungsi, 27 Februari 2013.

Thursday, February 21, 2013

Interlude (Dalam Novel "Tak Sempurna" by Fahd Djibran dan Bondan & Fade2Black)

“Something has gone very wrong with our school!” – Hiroshi Yoshimoto

SEMBILAN KEBOHONGAN YANG DIKATAKAN GURU DI SEKOLAH DAN KENYATAANNYA

1. Kami disini untuk membantumu memahami pelajaran. Kenyataannya: Kami di sini untuk memaksamu menghapalkan pelajaran. Jika kamu tidak bisa, kami akan menghukummu atau tidak meluluskanmu dalam ujian.

2. Kami akan punya waktu untuk sampai ke kelasmu sebelum bel berbunyi. Kenyatannya: Pelajaran-pelajaran disampaikan dengan waktu yang tak pernah mencukupi. Beberapa guru memaksa kami untuk mengurangi waktu istirahat dan kami tak punya pilihan lain. Guru selanjutnya tak mau mengerti bahwa waktu istirahat kami berkurang karena dipotong jam pelajaran sebelumnya, kami harus tetap masuk kelas berikutnya tepat pada waktunya.

3. Seragam sekolah dimaksudkan untuk menghindari diskriminasi. Kenyataannya: Kami tetap terdiskriminasi. Murid-murid masih bisa dibedakan berdasarkan kelas sosialnya maisng-masing. Mungkin kami memakai seragam yang sama, tetapi kami tetap bisa berlomba-lomba untuk terlihat menjadi yang paling kaya atau yang paling miskin melalui sepatu, handphone, atau lainnya. Bahkan sepeda motor dan mobil-mobil.

4. Kalian harus menguasai semua pelajaran, itu penting untuk masa depan. Kenyataannya: Hampir tidak ada satupun guru yang menguasai semua pelajaran, kan? Kalau tidka percaya, tanyalah guru Geografi? Kecil kemungkinan dia menguasai Matematika atau Fisika. Ajak guru Sejarah mengikuti tes olahraga, nilainya belum tentu sebaik temanmu yang jago olahraga tetapi buruk nilai pelajaran Sejarahnya. Di dunia nyata, tak ada satupun pekerjaan yang membutuhkan semua kemampuan, semua nilai baik dalam semua pelajaran! Di dunia kerja: Jika kamu mengetahui semuanya, itu sama artinya dengan kamu tak menguasai semuanya. Setiap orang memiliki kecerdasannya masing-masing, unik dan berbeda, sekolah berusaha menyeragamkan sambil menganggap yang cerdas hanya mereka yang pandai menghafal!

5. Merokok tidak baik untuk kesehatan dan tidak diperbolehkan di sekolah. Kenyataannya: Guru olahraga merokok di kantin dan memesan kopi hitam pada penjaganya. Kepala sekolah merokok di ruangannya sendiri. Kami merokok sembunyi-sembunyi di mana saja, termasuk di toilet sekolah.

6. Kalian adalah angkatan terburuk sepanjang sekolah ini berdiri. Kenyataannya: Kalimat itu diucapkan hampir setiap tahun pada semua angkatan. Tidak ada angkatan yang baik di antara kami.

7. Lebih dari kalian, guru-guru berharap agar kalian sukses dalam ujian nasional. Kenyataannya: Mereka takut ditegur kepala sekolah atau Kementrian Pendidikan jika salah satu di antara kami tak lulus ujian. Mereka akan dianggap tak becus megajar.

8. Guru BK selalu ada untuk mendengarkan. Kenyataannya: Mereka ingin didengarkan. Jika dipanggil ke ruangannya, mereka akan memarahi kita dan berteriak: “Dengarkan saya!”

9. Kami tidak membutuhkan uang kalian. Kenyataannya: Setiap kali membangun ruangan baru, uangan gedung dibebankan pada SPP bulanan kami. LKS dijual setiap semester dan kami wjaib membelinya. Buku-buku teks pelajaran ditentukan “seragam”, membeli langsung dari guru lebih baik karena akan mendapatkan diskon 25% dan namanya dicatat di list khusus yang entah berfungsi untuk apa.

Dan mungkin masih banyak lagi yang lainnya…

“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan dewa yang selalu bear. Dan murid bukan kerbau” -  Soe Hok Gie (1942-1969)


Komentar:

Saya yakin, dalam keadaan tertentu kadang kita menyetujui pernyataan di atas. Benar atau tidak adanya itu semua tergantung dari cara pandang kita. Inilah wujud pendidikan di negeri kita tercita. Semoga hal ini bisa jadi pembelajaran nyata untuk semua para pelajar dan pengajar di belahan dunia manapun. :)

Monday, February 4, 2013

For Everything


Dear Pangeran Matahari,
Langkahku terasa semakin berat. Menyeret berbagai hal tentangmu adalah yang membosankan. Terkadang, waktu membuatku harus meratapi nasibku. Tetapi, waktu pulalah yang membuatku bangkit kembali. Aku tidak mengerti, apa yang dipikirkan semua orang, termasuk kau dan dia. Kau dan dia sama. Membuatku merasakan hal yang sama dalam waktu yang berbeda. Kalian membuatku berada pada titik tuas jungkat-jungkit. Saat berada di atas, aku senang. Saat berada di bawah, aku mencoba kembali ke atas.
          
Mungkin, jika kuceritakan ini secara langsung, kau akan berpikir bahwa aku perempuan yang banyak bicara. Tapi, aku pikir ini semua karena terlalu banyak masalah rumit yang tidak bisa kutemukan solusinya.  Dan lagi-lagi aku harus memikirkan ini seorang diri. Dengan berbagai macam hal yang mendesakku untuk tetap maju menjalani hidup.
           
Sejujurnya, aku lelah harus bercerita tentang dirimu. Tapi jika tidak, itu akan lebih menyakitkan. Karena coretan ini adalah bagian kecil untuk meluapkan emosiku.

Melihatmu adalah kekuatan
Menatapmu adalah kebahagiaan
Ketika ragaku tak mampu menggapai
Ada mimpi yang membawa cerita

Ceritamu adalah kisah hidupku
Tergambar dalam sebuah kanvas
Untuk kenangan,
Untuk hadiah pada waktu yang bisu

Senyummu adalah sejuk
Meski mentari membakar fisik
Tawamu adalah rasa
Dari keabadian yang nyata

Cileungsi, 4 Februari 2013