Thursday, December 19, 2013

Setelah Hujan

Lengkap sudah hari ini. Semua terasa meyakinkan. Hujan yang datang, mengundang semua keraguan itu. Tentang kamu, tentang harapanku yang sempat menjelajah, hingga dinding hati rasanya ingin ambruk dan tak lagi mengingatmu. Semua kembali dalam sekejap mata. Kamu, inspirasi terhebat yang pernah aku miliki. Kamu kembali dalam siluet yang berbeda. Membuatku lagi-lagi harus mengerti akan keadaan yang sedang kuhadapi.

Ah, ya. Lisanku selalu bungkam ketika berbicara tentang kamu. Tapi tanganku selalu gesit menorehkan aksara demi aksara di selembar kertas dan media apapun yang bisa aku gunakan. Ini masih tentang kamu, seseorang yang masih menjadi pangeran sejak hari itu.

Apa aku bilang, aku melihatnya sejak kau memutuskan menjadikannya kekasihmu. Aku melihatnya, sebuah rasa yang berlindung dibalik senyumnya kadang menyakitkan. Sekarang, apa buktinya

Aku terkepung rasa yang semakin dalam tanpa bisa lagi lari menjauh. Semakin aku berlari, semakin rasa itu mengejarku. Kamu, sisa hujan dalam angan yang nyata.

Monday, December 16, 2013

Say Hello For Goodbye

Selamat malam, dunia(ku).
Dari sini, aku masih tersangkut dalam hening. Mencoba membuat keributan dari pikiranku, Perdebatan tentang hati dan perasaan. Sulit. Aku diharuskan emngerti sebab darimana rasa itu tumbuh. Alasan untuk membuatnya menjadi nyata. Tanpanya, semua hanya jadi ilusi, bayang-bayang, dan angan kosong yang siap menerkamku kapan saja.


Coba kamu pikir. Aku harus memahami arti sikapmu tanpa harus kamu katakan. Ternyata hanya dengan menerkanya, aku belum paham. Dan karena menerkanya pula, aku terjebak salah paham.

Lalu aku harus bagaimana? Menangis beriringan dengan hujan karena aku tak mampu menyimpulkan semua sikapmu? Halo, aku bukan paranormal. Aku bukan seseorang yang mampu membaca pikiranmu, kan? Dan kamu seharusnya tahu.


Purwokerto, 15 Desember 2013. 1:11 AM

Tuesday, December 10, 2013

Di Antara Gemuruh dan Hujan

Hening. Sunyi. Hanya desau angin yang terdengar ribut di antara malam yang membeku. Aku tahu, lagi-lagi aku tahu. Paham. Bahwa yang seharusnya terjadi adalah aku harus menenggelamkan pikiran itu. Menimbun dan menguburnya dalam-dalam.

Sesungguhnya siapa yang salah? Aku yang terlalu berharap atau aku yang salah mengartikan. Bagaimana denganmu? Harapan yang kau putar dari waktu ke waktu membuatku berpikir. Adakah yang berbeda? Atau semua hanya kiasan dari kanvas lukisanmu yang terlihat nyata? Oh, aku lupa. Kamu hanya terlalu ramah. Ya, sesederhana itu kesimpulannya.

Sejujurnya aku hanya mencoba melihat, mengamati, dan menerka. Di sana, di antara kabut yang menyelimuti, aku ingin berkata. Sesuatu yang hendaknya tidak aku sampaikan, hingga akhirnya lupa membuatku terbebas dari rasa canggung itu.

Saturday, November 30, 2013

Percaya Atau Tidak, Aku Suka Kamu

Percaya atau tidak, aku suka kamu.

Ketika senja mulai menjelma malam, saat itulah pikiran-pikiran itu masuk. Kadang aku tidak mengerti, apa yang sebenarnya aku pikirkan. Mungkin aku yang terlalu sensitif. Menganggap semua sikapmu itu manis. Padahal, seharusnya tidak begitu. Bahkan aku tidak mampu lagi membedakan antara ilusi dan kenyataan.

Ragu. Perasaan ini apakah hanya sesaat atau pelampiasan? Lagi-lagi aku terperangkap dalam momen yang sama. Belum sempat proses itu berjalan, aku terhenti. Diberhentikan secara paksa. Dan keraguan itu seolah menjawabnya.

Kamu mungkin tidak mengerti. Kamu mungkin tidak tahu. Waktu yang kita habiskan bersama selalu menjadi jejak untuk perasaanku. Menjadi jalan setapak yang terus berlanjut entah sampai kapan. Dan perih selalu datang di saat yang sama. Saat aku bersembunyi, mencari celah memikirkanmu, memikirkan perasaan ini.

Percaya atau tidak, aku suka kamu.

Ini kesekian kalinya aku berbicara tentang hati dan perasaan. Dan kamu orang kesekian pula yang aku “jatuhi”. Aku menyesal. Gundah selalu membuatku bertanya, “Apakah aku benar-benar menyukainya?”. Aku lelah. Resah seolah menghantuiku setiap malam. Terlebih setelah aku melihatmu.

Mata itu. Ah, aku tak pernah mampu menatapnya. Ada sesal yang seringkali hinggap ketika kamu berusaha menatapku ketika kita sedang berbicara.

Percaya atau tidak, aku suka kamu.
Meski ragu masih membayangiku, aku akui bahwa sejak hari itu aku memang suka kamu.
Awan. Mendung. Gerimis. Hujan. Bintang. Malam. Dan segenap hal lain yang membuatku mengerti bahwa aku memang suka kamu. Meski (lagi-lagi harus kukatakan), menyukaimu bukan hal mudah yang bisa kulakukan.
Purwokerto, 29 November 2013.

Monday, November 25, 2013

Pengalaman Diksar

Banyak hal yang aku dapatkan melalui diksar. Entah bagaimana caranya aku menyampaikan ini semua, mungkin hanya melalui sedikit kisah ini lagi. Jujur, rasa nyaman itu semakin kuat dan hidup dalam diriku. KORPS, lebih dari sekadar organisasi. Kami keluarga. Ya, keluarga yang selalu peduli satu sama lain.

Thursday, October 17, 2013

Makrab Komunikasi 2013

Pagi itu semua sesuai rencana. Langkah telah mantap mengikuti kegiatan ini, Makran Komunikasi 2013. Sesuangguhnya ada rasa iri dalam hati kecil untuk bias menikmati budaya pulang kampong yang dilakukan mahasiswa seperti sebagian teman-temanku yang lain. Namun aku tahu bahwa disini aku memiliki tanggung jawab, aku juga mempunya kewajiban untuk menghargai segala hal yang telah ditetapkan oleh panitia jauh-jauh hari. Meskipun pada akhirnya hanya setengah dari jumlah mahasiswa komunikasi 2013 yang mengikuti acara tersebut.

Hujan Sore Ini

Selamat malam, Penghuni Hatiku…

Entah butiran hujan mana yang membuatku mengingatmu lagi. Apakah aku terlalu mudah menarik pikiran itu lagi? Atau memang ada sisi tentangmu yang harus kuingat? Aku menyerah. Aku tak mampu merobek pikiranku tentangmu. Bahkan sekalipun aku merobeknya, aku akan dengan sukarela merekatkannya kembali, menjadi satu bagian utuh yang mampu kulihat sewaktu-waktu.

Sunday, September 29, 2013

Keluarga Tanpa Ikatan Darah

Salam lestari!!

Pagi ini saya ingin bercerita. Pengalaman baru yang saya ditemukan di sini, di KMPA Fisip Unsoed. Mungkin apa yang saya rasakan belum seberapa, tapi sejauh ini saya telah merasakan makna kekeluargaan yang lain selain keluarga saya sendiri. Di sinilah saya menemukan keakraban yang begitu dekat dengan hidup saya. Nyata dan membuat saya nyaman untuk tinggal lebih lama di sini.

Thursday, September 19, 2013

I Love You Anymore...

Malam ini begitu rumit. Terbangun di tengah malam, tepat ditanggal ini. Sadar atau tidak, ternyata aku masih mengingatnya. Walaupun sebagian dari otakku sudah mengubur memori itu, menggantinya ddengan memori lain (yang lebih penting) daripada hanya sekadar pikiran tentangmu. namun, playlist lagu lama yang aku putar dengan sengaja untuk menarik "feel"-ku untuk menulis, malah jaid berubah. Semua kebodohan masa lalu tertarik kembali. Kamu!

Untuk kau tahu (yang aku yakin kamu tak akan tahu). Bagian sisi mana dari pikiranmu yang masih tidak bisa memaafkan kebodohanku? Aku yakin tidak banyak. Karena kau juga merasakannya, bukan? Perasaan sakit yang menyerupai ujung jarum yang tiba-tiba terselip di jantungmu. Kecil, perih, menyakitkan. Begitulah.

Aku sempat menyerah. Ya, sempat. Bahkan hingga saat ini. Banyak hal yang mengubahku. Kamu. Kamu adalah mengapa aku begini. Sibuk dengan duniaku, sibuk mengandai-andai, sibuk memikirkan orang lain yang tak pernah memikirkanku. Ah, sudahlah. Tidak penting berbicara itu lagi. Aku hanya ingin kau bisa menjadi kau yang dulu, tapi aku tahu itu tidak akan pernah terjadi.


Selamat malam, My Glassesprince. I love you anymore.
Untuk 38 bulan yang tersimpan.

Purwokerto, 19 September 2013.

Saturday, September 14, 2013

Revolution

Multimedia adalah suatu kombinasi data atau media untuk menyampaikan suatu informasi sehingga informasi itu tersaji dengan lebih menarik. (sumber: google). Menurut definisi saya, multimedia adalah media yang memiliki banyak fungsi, contohnya internet. Karena internet bisa membuat kita mudah mendapatkan informasi berupa gambar, data, audio, maupun video.

Hidup kita tak pernah lepas dari yang namanya teknologi. Terutama teknologi komunikasi yang seperti telepon genggam yang sudah menjadi kebutuhan sehari-hari. Mulai dari anak-anak sampai manula pun sudah mahir menggunakan ponsel sebagai alat komunikasi jarak jauh. Saya pun demikian.

Tuesday, August 27, 2013

Kisah "Selamat Datang"

Selamat Datang

Selamat datang di Universitas Jenderal Soedirman. Satu-satunya universitas yang menggunakan gelar “Jenderal” di Indonesia. Selamat datang perjalanan panjang. Kisah yang akan terangkai dalam kurun waktu yang lama. Kisah perjuangan, pengorbanan, dan pengalaman yang tidak akan terlupakan. Tentang sebuah langkah awal yang pasti untuk meraih cita-cita.

Monday, July 22, 2013

Catatan Tentang Kenyataan

Sudah seharusnya semua yang terjadi di masa lalu hanya jadi kenangan. Tidak untuk diungkit, tidak untuk dijalani lagi. tapi aku selalu salah. Apa yang terjadi di masa depan, tidak pernah ada di masa lalu, tetapi masa lalu selalu mengikuti mmasa depan. Jejak yang tersembunyi. Begitulah aku menyebutnya. Dan semua jejak itu masih ada. Lengkap dengan semua penyesalan.

Sunday, July 14, 2013

By Me For Me (Edisi Perguruan Tinggi)

A Letter by My Self

Dear myself,
Aku tahu saat ini kamu sedang dilanda kebingungan. Hal yang paling penting yang saat ini kau pikirkan adalah tentang Perguruan Tinggi. Ya, tepat tanggal 8 Juli lalu, namamu tercantum dalam website resmi SBMPTN sebagai salah satu siswa yang lolos dalam ujian SBMPTN. Aku tahu, hal itu membuatmu bahagia, tapi entah selanjutnya bagaimana. Banyak hal yang membuatmu berpikir tentang hal ini.


Monday, July 1, 2013

Hello July

Dear July…

We meet again. Juli ke-18 yang aku temui selama hidupku, tapi Juli ke-3 yang mampu mempengaruhi kehidupanku dengan dominan. Akan selalu ada cerita tentang Juli. Tentang dia? Mungkin. Tapi aku sedang tidak ingin membahasnya. Tidak untuk kesekian kali setelah aku memutuskan untuk berhenti.

Saturday, June 29, 2013

Dear Saturday Night

Dear Saturday Night,

Kelabu. Ya, satu kata itu mampu membuatku malas untuk melakukan sesuatu di malam ini. Terlebih lagi, ada hal yang juga mengirimi sinyal ke otakku untuk terus terpusat padanya. Aku rindu Pangeran Matahari. Sampai saat ini aku belum bertemu dengannya lagi. Rindu? Ya, pasti. Akan selalu ada rasa rindu untuk sebuah rasa yang tidak terdefinisikan, juga untuk sosok sepertinya. Namun, aku tak sanggup mengatakannya layaknya sebuah hal yang sangat tabu. Hanya Tuhan yang akan menyampaikannya, lewat lantunan doa.

Wednesday, May 15, 2013

Rumit


Sumber: google.com


Semua hal selalu terlihat sederhana. Sesederhana mata yang melihat. Namun, pikiran kadang mengartikannya lain. Ya, ini adalah salah satu bagian hal rumit yang pernah kuhadapi. Mungkin seperti yang tadi kubilang, mata bisa melihatnya secara sederhana, tetapi ketika dihadapkan pada hal ini, tidak semua orang mampu melewatinya dengan mudah.

Sunday, May 12, 2013

Sebuah Nama


Andai kamu tahu,
Nilai kebahagiaanku tak terukur
Jika aku melihatmu tersenyum
Andai kamu mengerti,
Rasanya gelisah karenamu

Jangan pikirkan kesedihanmu
Untuk dia yang menyakitimu
Lepaskan segala kegelisahanmu
Ingatlah, Tuhan selalu menjagamu
Agar kamu tetap tegar
Relakanlah, bila dia bukan untukmu

Cileungsi, 22 November 2011

Friday, May 10, 2013

Short Story

Selamat malam.
Saya tahu apa yang saya lakukan selama ini adalah tidak benar. Membuat semuanya rumit dan menghimpit saya lebih dari apapun. Saya yakin semua ini memang tidak seharusnya terjadi. Tentang perasaan yang terlanjur tumbuh tanpa saya sadari dan terus saya biarkan rasa itu berkembang semakin besar. Saya juga mengerti, kamu dan dia adalah bagian yang tidak terpisahkan. Bahkan, waktu sepertinya sulit untuk melepaskan ikatan kalian. demikian dengan saya.

Thursday, May 9, 2013

Ketika Tuhan Tidak Mengizinkan


Di luar sana ada banyak keinginan yang terkadang tidak tercapai karena tangan Tuhan tidak mengizinkan saya untuk melakukannya. Saya mengambil sisi positifnya yaitu, Allah tidak ingin saya memiliki kenangan manis bersama dia. Karena Allah tahu, jika saya memiliki kenangan manis itu maka saya (untuk beberapa tahun ke deapan) akan mengalami stagnasi yang berlebih daripada ini. Mungkin Allah tidak ingin saya merasakan satu hal yang membuat saya bahagia hanya dalam waktu sekejap, tetapi hal itu membuat saya merasa jatuh di kemudian hari. Sungguh Allah Maha Baik dan Maha Tahu segala yang terjadi.

Monday, April 29, 2013

Rindu


Satu… dua… tiga… empat… lima…

Aku mulai berhitung. Jari-jariku melambangkan tiap-tiap hari yang sudah tidak pernah aku lewati bersamamu. Lagu itu tidak lagi bisa mengobati rinduku kepadamu. Juga semua foto-fotomu yang kupunya. Tidak bisa. Rindu ini rasanya terlalu akut untuk jadi sebuah rindu yang sederhana. Karena ini memang sudah menjadi rindu yang terlalu parah. Saking lelahnya menahan rindu biasanya aku tertidur dengan segenggam harapan agar bisa bertemu denganmu esok pagi.

Harapan? Ya, harapan. Aku hanya bisa berharap.

Thursday, April 25, 2013

The 23rd of April


Rahasia Hati

In this world, you need something called a feeling beside your rationality think. Without your feeling, you never know a thing called love. But, without your logical, you never know how to face the reality.


Sunday, April 21, 2013

The 14th of April


Sebuket Mawar Merah
Oleh Afrianti Eka Pratiwi

Aku termenung menatapi langit yang makin lama kian kelabu. Tak ada sinar matahari yang biasanya menghangatkan sesore ini. Hanya angin kencang dengan sedikit rintik yang belum dihiraukan orang. Semua hanya menunggu untuk hujan datang lebih deras, baru mereka meneduh. Selagi masih bisa diterjang, kenapa tidak? Itu pasti pikiran mereka.

Saturday, April 20, 2013

Surat Balasan untuk Robin Wijaya


Untuk Kamu, Pembuat kisah terhebat untukku…

Aku datang, Robin. Membalas suratmu yang telah lama kubaca. Menggenapkan hatiku untuk berbagi cerita kepadamu untuk berbicara tentang rasa yang selama ini tidak pernah kuketahui bentuknya.
Rasa. Satu kata yang sering membuat hatiku kebas akan sakit karena terlalu sering mengalaminya. Rasa. Satu makna yang ada di dalamnya membuatku rindu sekaligus benci akan keadaan romantisme yang ada. Rasa. Dua suku kata yang membuatku menjadi titik terlemah sekaligus titik terkuat dalam diriku sendiri. Dan rasa, satu fase di mana aku mulai tidak mengenali diriku lagi. Membuatku menjadi orang lain untuk merebut perhatiannya.

Jika kau bertanya, “Adakah orang yang membuatmu menyisihkan sebagian waktu untuk sekedar memikirkannya?”, jawabannya adalah: selalu ada. Karena setiap detik saat aku melewati sebuah tempat “pusaka” (aku menyebutnya begitu karena terlalu banyak kenangan yang ada), maka detik itu pula semuanya kembali ke masa lalu. Tepat ketika semuanya bermula. Sama seperti kisah ROMA-mu yang sempat mengukir cerita romansa dua orang yang jatuh cinta.

Jika kau masih bertanya lagi, “Adakah orang yang hanya dengar mendengar tawanya saja, kamu merasa tak perlu apa-apa lagi?”, dan jawabannya: selalu ada. Satu hal yang harusnya kau tahu juga, Robin. Dengan tawanya, semua sudah jelas bahwa dia baik-baik saja. Selalu baik-baik saja. Dengan begitu, secara otomatis akupun akan baik-baik saja.

Ah, tentang pengingkaran itu. Aku tidak terlalu mengerti tentang pengingkaran. Mungkin benar bahwa aku pernah melakukan penolakan dan pengingkaran itu. Seperti halnya kau berkata “tidak” padahal hatimu berkata “iya”. Semudah itukah pengingkaran? Pada kenyataannya semua serba sulit untuk dilakukan, kan? Aku tidak mengerti.

Tapi, Robin, apa kau mengerti tentang “rasa yang hanya fantasi sesaat”? Bukankah itu bentuk lain dari sebuah pengingkaran? Mengakui bahwa kau punya rasa itu, tapi enggan mengatakannya. Berbicara tentang menunggu momen yang tepat, tapi ternyata kesempatan tidak pernah lagi menghampiri. Fantasi sesaat, aku mengartikannya sebagai sebuah kejutan yang dahsyat. Karena di dalamnya ada dua kemungkinan nyata: bahagia atau menderita. Semua hanya tergantung waktu.

ROMA, kota itu menarik. Seindah lampu kota yang benderang saat malam hari, terlampaui indah malah. Dan aku ingin mengunjungi kota itu. Bercengkrama dengan pendar cahaya senja yang keemasan dari dalam gondola melintasi Ponte di Rialto, seperti katamu. Suatu saat aku akan ke sana, Robin. Mengukirkan kisah-kisah baru entah bersama siapa. Yang jelas, aku akan mencoba merangkaikan kalimat demi kalimat. Menyulam cerita demi cerita indah untuk nantinya dapat kunikmati bersama orang terkasihku, juga dirimu, Robin.

ROMA menantiku… menggoreskan kisah bahagiaku di sana.

Biarkan aku tenggelam dalam romantisme kisah ROMA-mu, sebelum aku benar-benar ke sana. Menjejakkan kaki di tanah ROMA yang sebelumnya telah kuketahui darimu.

Salam hangat,
Afrianti Eka Pratiwi

The 13th of April


Aku Belajar Darinya

Aku belajar memahami arti kehidupan darinya. Dari seorang anak kecil bertubuh tambun yang bersuara lantang.

Sore itu hujan turun deras. Menyapu sebagian besar kota Jakarta yang padat. Setiap orang di sini hanya bisa mengeluh. Ketika terik matahari membakar kulit mereka, mereka saling mengumpat, menginginkan keteduhan. Ketika hujan menyapa, mereka masih juga mengumpat, agar hujan reda.

Seperti yang aku tahu, sangat jarang orang Jakarta yang suka hujan. Mereka benci hujan, karena ketika hujan yang dianggap sebagian orang membawa berkah, maka hujan adalah musibah bagi mereka. Banjir. Ya, apalagi alasan mereka membenci hujan jika bukan karena hal itu?



The 12th of April

Delapan Belas yang Bermakna

Nobody’s perfect. Pepatah tua yang selalu benar. Karena tidak ada seorang manusia pun di dunia ini yang sempurna terkecuali Rasullullah Saw. Sama seperti kisah di penjuru dunia manapun, tak sempurna.



Friday, April 19, 2013

The 19th of April

Another Story of
"Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin"

Dentang pergantian hari sudah lewat dua puluh tiga menit yang lalu. Masih di tempat yang sama. Menatap layar kosong. Aku menuliskannya ketika kebanyakan orang telah terlelap, meniti mimpi-mimpinya. Mencoba menidurkan kisah-kisah kelam tentang hari ini dan berharap terbangun dengan segenap kisah manis keesokan harinya.

Saturday, April 13, 2013

The 11th of April


Tentang Sebuah Maaf

Langit masih cerah merona. Dengan matahari dan awan yang berarak tipis melengkapinya. Semua terlihat sempurna, tapi tidak untukku. Kamu tidak ada. Jadi, ada sebagian hal yang hilang pada hari itu. Menjelang ujian nasional adalah waktu yang aku benci. Bukan berarti aku takut menghadapinya, tapi itu artinya waktuku untuk melihatmu akan semakin tipis.

Jelas, aku menginginkan waktu lebih banyak dari ini. Kita bisa lihat apa yang akan terjadi setelah ujian nasional ini. Aku pasti akan sangat jarang berada di sekolah, bahkan sudah pasti ketika aku kembali ke tempat itu, kemungkinan kamu sudah pulang, meskipun aku tahu kamu selalu betah di sekolah.

Oke, aku tidak akan membahas ini terlebih dahulu. Aku akan membahas satu hal yang menurutku mampu membuatku merasa sedikit lega.

Derai air mata teman-teman tak mampu mempengaruhiku. Kepalaku pening, migraine dari beberapa hari yang lalu. Dan, meskipun aku terharu dengan situasi itu, aku tidak bisa menangis. Kau tahu, ini semua akibat janjiku yang dulu lagi. Aku tersenyum seraya menjabat tangan beberapa teman yang aku temui. Tentang permintaan maaf menjelang ujian nasional, ini ritual biasa. Tapi ada hal yang tidak biasa semenjak kau memilih gadis itu.


Aku melihatnya, terduduk di bawah pohon rindang bersama beberapa temannya. Sibuk memperhatikan layar ponselnya. Entah, aku tidak tahu apa yang ia lakukan dan aku tidak ingin tahu. Sungguh. Ada getaran halus yang menyuruhku untuk kesana. “Hanya meminta maaf, kan? Oke, akan aku lakukan,” pikirku.

Aku dengan segenap hati, menghampirinya. Ada rasa canggung saat memulai sebuah percakapan pendek dengannya.

“Aku minta maaf, ya.” Aku mengulurkan tangan dan tersenyum. Ia membalas sepersekian detik dan menyambut uluran tanganku, saling berjabat. Tidak sampai lima detik tapi cukup membuatku lega. Aku menahan nafas beberapa detik saat itu. Berharap aku akan kuat melakukannya, dan aku benar-benar melakukannya. Berdamai secara tidak langsung dnegan orang yang kaukasihi itu.


Lega. Itu perasaanku saat itu. Aku mulai mengerti tentang arti maaf, tapi untuk perasaan yang satu ini, aku tidak akan pernah bisa mengerti. Aku tahu, maafku waktu itu melambangkan perdamaian atas semua hal yang pernah kita permasalahkan. Tentang aku yang terlalu egois memaksa. Tentang aku yang terlalu tidak mengerti perasaanmu dan perasaannya. Tentang aku yang tidak tahu betapa besar rasa cinta dan kasih sayang kalian. Dan tentang aku yang terlalu menyayangimu.

Cileungsi , 11 April 2013

Thursday, April 11, 2013

The 9th of April


"Hear something from here. You with your shine. Like a sun(rise) before morning. Like a sun(set) before evening. Let me tell you that you're special."

Aku tidak tahu bagaimana aku mengatakan ini. Aku mengerti ada banyak orang yang bisa aku jadikan motivator, termasuk kamu.



Dunia ini tidak sepenuhnya milik kita.
Seperti butiran pasir lembut yang menggelitik kaki kita.
Seperti awan tipis yang berarak, melindungi kita.
Debu berterbangan seiring dengan kaki kita melangkah.

Angin membelai lembut wajah bahagia kita.
Menabur doa dalam setiap impian yang pernah kita sematkan dalam deburan ombak yang berkejaran.

Ini mimpi kita, jangan sia-siakan.
Ini tempat kita mengejar dan mewujudkan semua cita-cita.
Ini waktu kita menentukan sebuah peta kehidupan yang bisa kita ubah dengan usaha.
Ini jalan kita menuju kebahagiaan yang abadi.


The 8th of April

Ini tentang kamu lagi. Tentang waktu yang terlalu cepat berjalan tanpa memberiku kesempatan untuk mengubah haluan. Rasanya, semua kembali pada titik-titik jalan menuju masa lalu. Kamu. Hujan. Lapangan. Serta upacara. Semua hal itu membuatku makin terjebak dalam lintasan waktu. Membuatku merasa ada dalam dimensi berbeda, terutama saat memandangmu di tenagh gerimis.

The 7th of April


Untukmu, A...

Kata demi kata terangkai manis
Menyerupa kilatan cahaya yang dinamis
Separuh waktu ditelan gerimis
Juga butiran bening membentuk garis

Pusatnya adalah kamu
Tumpuan serta titik temu
Langkah yang kuseret dengan susah payah
Kembali pada arah yang sama

Demikian tentang aku yang tenggelam dalam imajinasi
Tentang kamu yang tak bisa kuraih
Getir, menjadi sapaanku tiap waktu
Melihat lengkung itu di bibirmu, bersamanya…



Cileungsi, 7 April 2013

Sunday, April 7, 2013

The 6th of April

Hari ini hujan datang lagi. Saya selalu suka saat hujan turun. Karena kesejukan ikut turun bersamanya. Saya tidak tahu mengapa saya suka hujan. Mungkin saya pernah menghabiskan waktu saat-saat hujan bersamanya. Bersama rasa yang tak kunjung terhapus oleh ribuan tetes air dari langit yang jatuh ke bumi. Bahkan rasa itu kiat pekat seiring jatuhnya hujan.


Damn! Mengapa ketika hujan saya juga selalu ingat kamu? Sebegitu melekatkah bayangan kamu di pikiran saya? Saya benci begini, tapi saya suka. Kamu masih jadi bagian penyemangat dari diri saya. Sampai kapanpun...


Lagu ini selalu jadi backsound ketika hujan turun. Taylor Swift - Come In With The Rain...



The 5th of April

Ini tentang Pangeran Hujan...
Rainzu...
Nama itu masih menggema kadang-kadang
Di selipan hujan yang terus merinai
Masih dalam lingkaran April yang sama,
Dan kau pun tahu tentang bulan April


Saya bertemu kamu lagi. Di tempat yang sama dimana dulu kita pernah bersama. Tapi, sudah tidak ada getar itu lagi. Meski saya masih sering mengagumi wajah teduh kamu. Saya selalu tertegun memandangimu. Dan kamu adalah satu hal yang membuat saya bermimpi untuk terus maju menjadi yang terbaik. Terima kasih, Pengeran Hujan (Rainzu).

Saturday, April 6, 2013

The 4th of April

Adzan Zuhur


Zuhur memanggil saya dengan syahdu. Tidak ada yang aneh dengan zuhur ini, hanya saja ada yang berbeda. Ini tentang kamu. Lagi, lagi, dan lagi tentang kamu. Entah mengapa saya tidak pernah bosan membahas kamu. Untuk saya, cerita tentang kamu tidak akan pernah habis saya tuliskan. Termasuk untuk siang ini, zuhur yang menyejukkan.

The 3rd of April



 Proses "Berdamai"

Menurut saya, proses “berdamai” tidak sama dengan “Move On”. Kenapa? Karena dilihat dari definisi dari sudut pandang saya memang tidak sama. Move On daalah suatu cara untuk berpindah ke “tempat” atau suasana lain dari yang pernah kita lalui. Sebagia contoh, istilah move on sering digunakan oleh para remaja saat ini ketika mengalami kejenuhan dalam suatu suasana. Atau setelah pasca pemutusan hubungan “pacaran” yang dijalaninya agar tidak terus-menerus larut dalam kesedihan. Kadang, peristiwa move on ditandai dengan adanya seseorang baru yang menjadi pengganti sang mantan.

Sedangkan, proses “berdamai” lebih ke arah mengikhlaskan perasaan, meskipun masih ada keinginan untuk ada di posisi itu. Atau bisa diibaratkan dalam sebuah perang, kita bisa membuat perjanjian perdamaian sampai batas waktu yang telah ditentukan. Proses “berdamai” adalah bagian dari yang paling sulit menurut saya. Karena harus benar-benar mengikhlaskan diri untuk kebahagiaan seseorang itu dan… kita sendiri. Meskipun pada kenyataannya tidak demikian.


 

Saya akan bagikan kisah saya yang sudah menjadi rahasia umum ini pada kalian yang belum tahu. Sejujurnya, move on dan proses “berdamai” adalah dua hal yang serupa. Tapi dalam konteks ini akan saya bedakan agar kita benar-benar bisa mengetahui mana yang dengan hati, mana yang hanya dianggap angin lalu. Bukan berarti saya men-cap orang-orang yang gampang move on dengan stempel “Angin Lalu”. Saya sendiri juga tidak tahu apa yang sebenarnya ada dalam pikiran dan perasaan orang-orang itu, kan? Bahkan saya bukan orang yang bisa membaca pikiran.

Saya termasuk orang yang mudah menyukai orang lain. Dengan beberapa kali bertemu, saya bisa langsung jatuh hati pada orang itu. Tentu dengan keadaan dan suasana tertentu. Kejadian ini membuat teman-teman saya heran. “Kok lu bisa suka sama banyak orang? Yang Pangeran Matahari, Pangeran Embun, Pangeran-pangeran lainnya deh.”


Akan saya jelaskan. Ketika saya memutuskan untuk menetapkan hati saya, saya pernah bilang bahwa saya akan bersamanya sampai waktu yang ditentukan untuk saya berhenti. Dalam perjalanan saya menuju tiga tahun ini, saya tidak luput dari banyak perasaan-perasaan yang tumbuh pada orang lain selain dia. Tapi, saya katakan kembali, saya menyukai orang lain bukan karena saya telah berhasil move on, malah sebaliknya.

Kenapa bisa begitu? Karena setiap orang yang saya sukai ibarat cahaya yang dibiaskan darinya. Jadi, apapun yang terjadi, sesuka apapun saya pada orang itu, prioritas saya tetap pada dia. Ini sedikit latar belakangnya.

Tentang proses “berdamai” yang sesungguhnya, saya sendiri belum berhasil melakukannya. Karena sangat sulit melakukan ini. Saya menyukainya lebih dari semua kata-kata yang pernah saya tuliskan. Dan, ketika dia memiliki seorang kekasih di awal tahun pelajaran kami di SMA, saya memulai proses “berdamai” itu dengan hati yang tidak benar-benar berdamai. Tapi, lagi-lagi saya terjebak pada janji saya sendiri. Yang mungkin samapi sekarang masih saya rasakan dampaknya.

Banyak hal yang mampu membuat saya belajar memahami bagaimana proses “berdamai” sebenarnya. Saya menyadari, dari sekian banyak janji saya untuk move on, semuanya saya langgar. Karena saya tidak benar-benar bisa dan berniat untuk melakukannya. Alhasil hingga saat ini saya masih di posisi yang sama, walaupun saya sedikit demi sedikit mengikhlaskan dia demi kebahagiaannya.

Cerita move on, itu lain lagi. Move on identik dengan “punya pacar baru” atau “punya gebetan baru”, bahkan “sudah lupa sama yang lama”. Tapi ini berbeda. Move on bukan sekedar itu saja. Menurut saya (lagi), move on itu berusaha melupakan segala sesuatu tentang si dia. Membabat habis semua yang berhubungan dengan dia tanpa terkecuali. Saya pikir hal ini tidak semudah kelihatannya. Karena semakin kita memaksa untuk melupakan, maka semakin kuat ingatan itu di pikiran kita. Saya pernah mencobanya dan hasilnya… GAGAL TOTAL.

Pada intinya, proses “berdamai” jauh lebih baik ketimbang move on yang jika sudah lama akan dicari-cari lagi. (opini saya).



“Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kaupangkas lagi. Semakin kautikam, di tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kauinjak, helai daun barunya semakin banyak.” (Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin – Tere Liye).

Cileungsi, 3 April 2013

Tuesday, April 2, 2013

The 2nd of April 2013

Selamat siang...
Hari kedua di bulan April. Masih terasa seperti hari-hari lainnya. Belum ada yang spesial lagi seperti hari kemarin. Saat dia membuat saya merasa tidak bisa berkutik. Bukan karena saya takut, tapi karena dengan melihat dia, rasa saya yang mulai pudar akan kembali pekat seperti sedia kala. Saya selalu tidak mengerti, apa yang membuat saya bisa benar-benar begitu tertarik padanya. Wajahnya? Dibanding yang lain, dia sama saja. Apalah arti perkataan orang yang sedang jatuh cinta? Semuanya pasti dipandang baik. jadi saya mencoba melihat ini dengan sudut pandang yang berbeda.


Tidak selesai begitu saja. Semua rangkaian panjang ini saya yakin akan ada ujungnya. Tapi, saya tidak tahu kapan. Saya merasa terjebak dalam permainan yang tidak tahu cara penyelesaiannya bahkan saya cenderung tidak punya kesempatan untuk menyelesaikannya. Apakah dnegan wkatu yang terus berjalan, saya mampu mempunyai kesempatan untuk berhenti dari "permainan" ini? Apakah dengan tempat yang berbeda saya mampu mengalihkan pikiran saya dari "permainan" ini?


Pertanyaan itu sesungguhnya mampu saya jawab. Mengutip kata-kata dari sebuah novel, "Kesempatan akan selalu ada jika kamu mampu menmbuat kesempatan itu terjadi." (Sunset Bersama Rosie oleh TereLiye). Maka yang saya butuhkan hanyalah keberanian mengambil keputusan. Tapi, saya terlajur takut untuk melakukannya lagi. Saya pikir, dengan mengatakannya lagi (nanti) saya akan lega dan bisa mulai berdamai dengan perasaan saya. Ternyata yang saya pikirkan terlalu banyak resiko. Saya takut ketika saya mengatakannya lagi, saya malah akan merasa menggantungkan harapan lebih tinggi bukan malah memutuskan tali harapan itu.

Sebenarnya, harapan yang saya tunggu tentang ini tidak pernah berarti. Smeua terasa monoton, datar, dan tanpa makna yang jelas. Dari sekian banyak hal yang saya alami hingga saat ini, saya hanya mampu mengambil beberapa hikmah terutama tentang kesetiaan. Tapi sisanya masih lebih buruk dari yang pernah saya bayangkan.


Saya tidak tahu sampai kapan ini berjalan. Jika masih panjang waktunya, saya hanya bisa berharap jika waktu yang saya lewati untuk perasaan ini mampu membuat saya tumbuh menjaid gadis yang lebih dewasa dnegan pemikiran yang rasional. Bukan melulu menggunakan perasaan. Saya hanya butuh berpikir rasional, tanpa harus mengandalkan aspek rasa yang sejujurnya tidak banyak membantu saya dalam hal ini.


Mungkin suatu saat saya akan sadar, bahwa kebanyakan orang bisa tiba-tiba kehilangan akalnya hanya karena masalah seperti ini. Tapi lagi-lagi saya ingin menjadi gadis yang cerdas, yang mampu mengubah perasaan menjadi kisah logika bermanfaat dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Meski pada kenyataannya memang terlalu menyakitkan untuk dirasa. Namun punya sedikit hikmah untuk pembacanya.

Dalam tulisan ini saya tidak tahu apakah ada pesan yang bisa diambil atau tidak. Jika ada, maka ambillah hikmah positifnya saja. Semua adalah tentang kehidupan yang tidak selalu berada dalam lingkaran kebahagiaan yang sempurna.


Cileungsi, 2 April 2013

The First of April

Ini masih tentang kamu...
Lelaki yang menjadi sejarah panjang
Yang memenuhi hari-hari
Tanpa terkecuali

Ini masih tentang kamu...
Lagu lama yang menjadi teman setia
Kisah usang yang sesungguhnya hampir mati
Terhempas oleh dirimu sendiri

Dulu, sosokkmu adalah penyejuk
Kemarin, wajahmu adalah ketenangan
Tadi, perilakumu membuatku gelisah hebat
Dan kini, bayangmu tak lepas dari imajiku

aku yakin kau maish ingat
Deretan kata yang masih melekat
"Apapun yang terjadi ku kan selalu ada untukmu..."
Itu, kata-kata ajaib...

Sejauh aku berlari
Tak ada hasil
Sedekat aku mengenal
Juga tak ada hasil

Aku rindu kamu lagi...

Cileungsi, 1 April 2013



Thursday, March 28, 2013

Tips Menghadapi Ujian Nasional ala Gue


Tips Menghadapi Ujian Nasional Ala Gue

           Kurang lebih 2 minggu lagi semua siswa SMA dan sederajat akan melaksanakan sesuatu yang untuk sebagian orang dianggap menakutkan. Karena, hal ini menyangkut masa depan dan kehidupan kita selanjutnya. Saya sendiri juga merasa cemas untuk menghadapi hal itu. Tapi, saya mencoba mengubah kecemasan itu dengan hal positif.

            Ujian Nasional. Penentu di akhir pendidikan kita di Sekolah Menengah Atas (SMA). UN menjadi bagian dari penilaian atas hampir semua instansi Perguruan Tinggi (PT) untuk mempertimbangkan layak atau tidaknya kita menempuh pendidikan di PT tersebut.
            Tentu dalam hal ini, kita semua ingin mendapatkan nilai yang terbaik sertta dampak baiknya yaitu diterima di PTN atau PTS yang kita inginkan sesuai minat kita. Maka, saya akan berbagi sedikit tips untuk menghadapi Ujian Nasional.

Langsung saja…

1. Manfaatkan Waktu
            Menjelang Ujian Nasional yang tinggal menghitung hari, tentu tidak banyak waktu lagi untuk kita bisa bersantai. Maka, selagi ada waktu luang untuk mendalami materi, lakukanlah. Kurangi aktivitas yang tidak penting yang keberadaannya saya memecah belah pikiran kita. Atau, jadwalkan dengan runtut apa yang akan kita lakukan hari ini dan hari-hari selanjutnya agar kita juga terbiasa.

2. Perbanyak Latihan Soal
            Tipe soal UN dari tahun ke tahun itu mempunyai kemiripan, sehingga ada baiknya kita mempelajari soal-soal yang bertipe sama untuk memudahkan kita jika menemukan soal seperti itu di ujian nasional. Walaupun tahun 2013 UN memiliki 20 paket soal, tentu soal yang ada tetap memiliki bobot dan tipe yang sama dengan tahun-tahun sebelumnya. Jika, merasa kesulitan pada soal-soal tersebut kita masih punya waktu untuk bertanya pada teman yang dianggap paham, guru, atau bahkan bisa browsing di internet.

3. Jaga Pola Makan dan Pola Tidur


            Kedua aspek tersebut terlihat sangat sepele, namun menentukan. Ketika kita sedang tekun belajar, mungkin waktu makan menjadi terlewatkan.  Tapi mendekati UN, makan sangatlah diperlukan, dikarenakan otak kita butuh asupan lebih untuk berpikir. Jangan samapi tubuh menjadi drop ketika mendekati hari ujian. Juga pola tidur harus dikondisikan dengan baik. Untuk yang biasa begadang, coba kurangi. Selain tidak baik untuk kesehatan, akibat kekurangan tidur akan mengganggu konsentrasi dari kerja otak.
            Terutama sehari sebelum Ujian berlangsung, jangan lupa sarapan terlebih dahulu agar otak juga punya energi cadangan untuk berpikir yang pastinya menguras energi yang ada. Untuk waktu tidur usahakan jam 9 malam sudah tidur agar esoknya badan dan otak fresh serta siap mengerjakan soal ujian.

4. Jangan Terlalu Percaya pada Kunci Jawaban yang Berseliweran
            Sebagian dari kita mungkin mengandalkan kunci jawaban atau “bocoran” dari berbagai sumber. Sudah tidak dipungkiri, hal ini marak terjadi saat mendekati hari ujian nasional. Karena sebagian anak tidak percaya diri akan kemampuannya, sebagian lagi mungkin menjadikannya patokan bila sudah “mentok”.
Dari berbagai sumber termasuk media elektronik, didapati oknum yang menjual “bocoran” dengan harga yang relative tergantung tingkat kebenarannya. Saya sendiri tidak tahu mengapa orang-orang tersebut bisa mengatakan kunci jawaban itu 100% benar, misalnya. Padahal kita belum melihat soalnya. Dan mengapa kita percaya? Mengapa juga kita tidak meminta soalnya saja dan mengerjakannya sendiri? (Hal ini mungkin dianggap terlalu beresiko, saya mengerti). Jika kita tidak mengetahui kebenarannya, mungkin saja ada peluang untuk kita tertipu, kan? :D
Efek lain yang baru saya pikirkan adalah ketika kunci jawaban yang kita terima itu berbeda dengan soal yang kita harus kerjakan. Bagaimana? Lagi-lagi kita harus berjuang sendiri dengan keadaan satu ruangan yang berbeda paket soal satu sama lain. :D
Percayalah pada diri sendiri. J

5. Minta Restu dan Do’a Orang Tua serta Orang Sekitar
            Sebelum menempuh ujian, ada baiknya dan sangat disarankan untuk meminta doa kepada orangtua, terutama Ibu. Karena bisa jadi doa orang tua yang diridhoi Allah akan sangat membantu kita dalam mengerjakan ujian. Jangan lupa berpamitan dan mencium tangan kedua orangtua sebelum berangkat ke sekolah untuk ujian.  Lakukan hal ini sampai hari terakhir ujian. Semoga Allah mendengar doa-doa orangtua kita. Aamiin.

6. Usaha, Percaya Diri, dan Tawakkal kepada Allah S.W.T..
            Tiga tahun kita belajar. Satu semester terakhir kita diuji dengan berbagai macam Tryout. Pasti kita sudah mengenal banyak materi yang akan diujikan. Jika nilai dalam Tryout masih buruk, ingat saja itu baru pemanasan. Kita masih bisa memperbaikinya di kemudian hari yaitu pada hari Ujian Nasional. Jika pada Tryout sebelumnya kita masih banyak kesalahan menjawab soal, anggap saja kita menghabiskan “jatah salah”. Jadi, ketika tiba hari ujian nasional yang tersisa hanya jatah benar kita.
            Jika kita belajar dengan sungguh-sungguh, optimis, dan percaya bahwa kita bisa mnengerjakannya dengan kemampuan yang kita miliki, maka Insya Allah akan ada hasil baik untuk kita. Jangan lupa berdoa sebelum mengerjakan soal ujian agar Allah senantiasa memudahkan kita dalam mengerjakannya. Ketika kita sudah berusaha semaksimal mungkin, hasilnya serahkan pada Allah. Jangan pernah takut, karena Allahh selalu membantu orang-orang yang meminta kepada-Nya. Lakukanlah dengan kejujuran.

Semoga tips ini bermanfaat. Semoga Allah selalu memudahkan kita semua dalam mengerjakan ujian. Semoga kita semua dapat lulus dengan nilai yang terbaik dan masuk PTN/PTS yang diinginkan. Aamiin. J

Cileungsi, 28 Maret 2013

Tuesday, March 26, 2013

Be Honest





Hari ini, tepat di malam ini. Saya merasa ada sesuatu yang janggal. Kebimbangan yang merasuk dalam diri terlampau kuat. Saya belum mampu memutuskan. Meski, 90% keputusan saya hampir mendekati "Tidak". Tapi ini lain cerita, meskipun saya sepenuhnya yakin ada Allah yang senatiasa membantu saya. Bahkan, dari sekian waktu yang saya lewati, saya telah berusaha berjuang untuk mempelajari dan memahami banyak persoalan yang ada. Saya berpikir, apakah akan sia-sia semua yang saya usahakan saya demi selembar kertas? Lagi, apakah suatu kejujuran yang tercipta dalam diri saya akan ternodai dalam waktu yang tidak lama itu?

Saya mengerti semua kecemasan yang terlalu membuat otak bersikukuh mencari cara lain untuk "menang". Saya tahu ketakutan yang menghampiri setiap pikiran akan hal ini. Tapi, apa dengan ini akan ada kepuasan yang mendalam? Untuk sesaat itu PASTI. Tapi untuk jangka panjang, saya tidak yakin.




Saya hanya teringat garis waktu yang terlewat, bahwa saya pernah bisa melakukannya tanpa hal itu. Saya pernah bisa mendapatkan yang baik dengan kemampuan saya dan bantuan dari Yang Maha Kuasa. Tidak dengan bermacam cara yang belum tentu baik untuk nantinya. Saya yakin, semua orang tahu keberadaan hal ini, semua orang nyata melihat adanya hal ini. Tapi lagi-lagi, apakah ini bagian dari siasat untuk memberitahukan ataupun mengelabui publik bahwa kita tidak sungguh-sungguh memahami hal itu?

Saya sendiri belum meyakini bagaimana "hal itu" bisa sukses di harinya. Dengan segala macam kemungkinan yang terjadi, saya tidak pernah memastikan. Maka, dari itu saya menghindari. Bukan karena saya idealis, tetapi lebih kepada percaya akan adanya Allah S.W.T.. Karena, semua hal yang bersifat keragu-raguan lebih baik ditinggalkan. Karena hasilnya belum tentu lebih baik.

Ini sebagian dari pikiran saya. Kebimbangan yang terlalu dalam. Dan saya pikir, ini bukan sesuatu yang penting. Tapi bagus jika membuat ini bermanfaat. Sekadar tulisan yang "sedikit menyadarkan". Maaf jika ada yang tersinggung dengan ini.




Cileungsi, 26 Maret 2013. 21:39 WIB.


Friday, March 8, 2013

Kosong

Waktu bergulir secepat biasanya. Tanpa pernah ada jeda yang terasa menakjubkan. Tapi, hari ini, sore ini pula, aku merasa waktu sekana berhenti. Meski hanya beberapa detik yang membuatku kembali melewati arah yang sama sejak dua tahun lalu.

Thursday, February 28, 2013

Embarrassing and Awkward Moments


Hari ini banyak banget kesalahan yang gue lakuin…
Pertama, gue salah masukkin Nomor Induk Siswa (NIS) di formulir SMNPTN. Itu gue bener-bener nggak tau. Malem itu gue udah panic banget dan nggak tau harus gimana. Dan untungnya, sekolah belum rekomendasiin siswanya, jadi masih ada kemungkinan buat membatalkan finalisasi yang gue lakukan. Dan masalah itu kelar. 

Kedua, hari ini gue ada tryout dari Universitas Gunadarma. Soal pertama itu Matematika. Awalnya gue optimis karena gue semalem belajar, walaupun sedikit. Tapi pas gue liat soalnya itu tiba-tiba aja otak gue blank. Serasa kosong dan nggak tau mau ngisi apa. Bodohnya lagi di menit-menit terakhir, gue malah ngeliat jawaban temen sebelah gue. Padahal kita BEDA PAKET SOAL!!! Makan, tuh soal! -___- Dan gue baru sadar saat ngerjain soal tryout kedua, bahasa Inggris. Matilah gue… >,<

Ketiga, gue baru aja mau solat zuhur. Sebelum solat, gue biasanya ngambil mukenan buat gue pake baru abis itu wudhu. Nah, abis wudhu, gue balik lagi kan mau solat. Karena gue gak pake kacamata, gue liat ada yang make mukena yang tadi udah gue “booking”. Karena gue kira itu temen gue, gue langsung nyeplos aja, “Eh ini punya gue!”, pas gue liat, ternyata itu ade kelas. Aduh malu banget gue, untung lagi sepi. Dia dengan tampang berdosa bilang, “Oh, ini punya kakak?”. Gue jawab aja karena udah terlanjur malu, “Eh enggak, udah pake aja…”. Dan gue bergegas ngambil mukena lain. Dan gue pun solat harus difokus-fokusin karena agak kepikiran sama hal itu. It’s an embarrassing moment…


Cileungsi, 28 Februari 2013

Wednesday, February 27, 2013

I'm Trying...


I’m Trying…

Terlalu banyak waktu yang sudah terbuang. Langkah yang terseret arus masa lalu masih membuai. Bukan dengan kenyataan yang membahagiakan, melainkan keterpurukan yang mendera jiwa. Siapa yang tahu bahwa semua ini akan terjadi? Siapa yang mau untuk berada di posisi ini? Tak satupun. Lagi, perdebatan logika dan perasaan masih belum menemukan titik temu. Mungkin dengan sedikit paksaan dan keikhlasan yang benar-benar ikhlas, jalan terbaik akan terbuka.
                 

Bukan dengan kekerasan yang nyatanya tak mampu mengubah apapun. Bukan juga dengan kelembutan yang semakin lama akan semakin menyandera pikiran untuk berimajinasi hal-hal yang tidak sesuai kenyataan. Tapi dengan DO’A. Hanya do’a yang mampu hapuskan rasa yang bersemayam. Hanya do’a yang mampu mengikhlaskan sekian banyak hal yang terhempas sia-sia.
              
  “ZONA NYAMAN = KAMU”

 Tidak pernah ada alasan yang pasti mengapa aku menempatkanmu sebagai terdakwa dan predikat “tempat ternyaman” yang pernah ada di dunia. Semua terjadi karena AKU TERBIASA. Aku mulai membiasakan diri benyaman-nyaman ria dengan dirimu, dengan segala hal yang ada pada dirimu. Tak ada sedikitpun kata bosan menghampiriku. Tapi, bagai orang yang baru sadar dari “kegilaannya” atau “kecanduannya” atau “ketergantungannya”, aku mengerti bahwa sudah saatnya meninggalkan kebiasaan itu. Lambat laun aku tahu, selama ini waktuku sia-sia. Menegakkan benang basah yang jelas-jelas mustahil untuk terjadi.

 Walau sejujurnya aku masih beradaptasi dengan situasi yang baru, aku belum sepenuhnya bisa. Tapi aku selalu ingat, BISA itu karena TERBIASA. Dan aku akan membiasakan diri untuk itu. Aku tidak ingin menggerus hatiku dengan kepedihan. Aku tidak ingin mengganggu hidup orang lain. Dan aku tidak ingin lagi membuatmu terganggu. Jadi, sudah 2 hari aku mencoba. Dan aku masih adaptasi.


Cileungsi, 27 Februari 2013.