Friday, September 28, 2012

19 July Terburuk

Sumber: google.com

Dear My Glassesprince,

Aku hanya ingin menyayangimu secara sederhana. Seperti daun tua yang gugur dan membuat sebuah pohon tumbuh subur. Aku hidup di dalam setiap mineral dalam batang pohon itu. Dan aku rela untuk jadi seperti itu. Demi kau.




19 Juli 2010. Tanggal itu masih kuingat. Karena aku takkan pernah melupakannya. Hari terindah saat aku menemukan sosokmu yang mengisi hati. Walalu aku tahu, aku takkan pernah bisa memasuki hatimu barang sedikitpun. Entah itu cinta atau bukan, yang jelas aku menyayangimu. Aku hanya ingin melihatmu tersenyum setiap hari dan berharap agar wajah manismu itu tak pernah dihinggapi rasa sedih. Aku cemas, saat kau dilanda kesedihan yang berlarut. Aku takut, saat aku tak bisa melihatmu tersenyum lagi. Tapi aku tak pernah bisa berbuat apa-apa. Aku hanya bisa berdoa untuk semua kebaikan untukmu.

19 Juli 2011. Satu tahun rasanya sangat lama. Karena berbagai macam rasa menyatu dalam kurun waktu tersebut. Aku selalu menghitungnya. Berapa kali aku mendapatkan momen indah bagiku terkait tentangmu. Aku menulisnya, aku mengabadikannya, dan aku mengenangnya. Aku yakin, suatu saat hal itu akan jadi memori terindah yang akan kita kenang. Ya, kita. Kau dan aku. Namun entah kapan. Semoga saja Allah memberi kita waktu untuk sekedar membahas cerita itu.

19 Juli 2012. Tanggal terburuk yang pernah aku lalui. Tanggal termiris yang pernah aku tahu. Dan tanggal tergetir yang sampai saat ini tak aku mengerti. Aku yakin kau tahu semua maksudku. Aku yakin kau tahu apa yang aku bicarakan kali ini. Ya, ini tentang kekasih barumu. Aku kaget saat kau menuliskan tanggal lahirnya dan tanggal lahirmu dan menjadi sebuah tanggal baru yang membuatku benar-benar terkejut.

Aku hanya ingin tanya, apa maksudmu mengambil tanggal itu sebagai tanggal jadimu? Tanggal yang seharusnya menjadi tanggal terindah yang aku lalui setiap tahunnya. Dan kini, kau merubah tanggal itu menjadi tanggal terburuk bagiku. Mungkin ini sudah jadi takdir bagimu, bagi hubungan kalian. Lagi-lagi aku hanya bisa tersenyum dalam diam.

Aku seperti langit yang mendung. Gelap tapi tak menjatuhkan setetes pun air langit ke bumi. Ya, aku seperti itu. Sendu, namun tak setetes pun air mata yang jatuh. Bahkan aku lebih hebat dari langit mendung. Aku mampu menghasilkan pelangi meski hujan tak pernah turun. Aku mampu mengubah kesedihanku menjadi senyum bahagia saat melihatmu tersenyum bersamanya.

Sampai kapan aku harus terus begini? Kuatkah aku menghadapi hari demi hari tanpamu? Terlalu banyak pertanyaan yang tak pernah bisa kudapatkan jawabannya. Tapi jawabanku cukup satu: KAU! Aku tak pernah meminta banyak darimu, aku hanya ingin kau tahu. Aku tidak ingin lagi melihatmu sakit. Aku tidak ingin lagi melihatmu menderita. Aku ingin melihatmu bahagia dengan perempuan manapun yang kau ingin. Aku selalu mendukungmu, dengan doa dalam setiap sujudku. Aku menginginkan yang terbaik untukmu. Bila dia yang kau mau tak bisa membuatmu tersenyum, maka akupun akan meminta pada-Nya agar kau bisa tersenyum lagi.

Untuk kau yang masih ada di hati, tetaplah menjadi bintang yang selalu menerangi malam. Meskipun bintang terlihat kecil dari bumi, namun merekalah yang menghiasi langit sepanjang malam.  Yang selalu menjadi teman dalam kesunyian. Yang menjadi penerang dalam kegelapan. Yang selalu indah sampai kapanpun.

Cileungsi, 19 September 2012. 17:15 WIB

No comments:

Post a Comment